Minggu, 05 Desember 2021

Motivator


Mewujudkan Guru yang inspiratif dan inovasi.

 Ungkapan bijak bestari mengatakan: ”Guru biasa memberitahu, guru baik menjelaskan. Guru ulung memeragakan, guru hebat mengilhami, guru inspiratif memantik ide dan kreativitas, mencerahkan dan mencerdaskan”.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, ditegaskan bahwa, ”Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama, mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Substansi dan fokus pendidikan adalah proses pembelajaran yang terjadi dalam diri peserta didik dan mampu menyentuh seluruh aspek kehidupan sehingga terjadilah proses pencerdasan pada seluruh lini kehidupan. Pikirannya harus dicerdaskan, emosionalnya harus dicerdaskan, potensi raga dan keseluruhan aspek kepribadiannya pun harus dicerdaskan. Jika seluruh domain kehidupan seseorang dicerdaskan maka lingkungannya pun akan tercerahkan. 

Sekolah dibangun atas suatu ”philosophical foundation” bahwa dengan diciptakannya sekolah ”human growth and development” peserta didik dapat terbentuk secara optimal. Lembaga ini sesungguhnya merupakan suatu tempat berkumpulnya anak usia sekolah tertentu dengan lingkungan dan suasana tertentu sehingga anak memperoleh kesempatan belajar yang diharapkan. Jadi, jantung setiap sekolah/lembaga pendidikan pada dasarnya ialah interaksi guru dan murid dalam proses belajar-mengajar. Dengan demikian, yang perlu diupayakan adalah bagaimana agar guru dapat mengajar dengan baik dan siswa dapat belajar dengan efektif dan efisien.

Tentunya guru dalam melaksanakan perannya, hendaknya memperhatikan aspek-aspek pendidikan, yaitu kewibawaan, identifikasi, mengenal perkembangan jiwa, dan mengenal perbedaan individual siswa. Kewibawaan guru bergantung pada sikap guru terhadap siswa-siswanya. Di antara sikap-sikap yang dapat menimbulkan kewibawaan, yaitu sikap tegas, konsekuen, menghargai, dan menyayangi siswa-siswanya.

Dalam mengenal perkembangan kejiwaan, diharapkan guru dapat membimbing berdasarkan kasih sayang (rasa cinta), adil, dan menumbuhkan perasaan-perasaan itu dengan penuh tanggung jawab. Guru juga diharapkan dapat mengenal perbedaan individual siswa. Guru tidak hanya memperhatikan pekembangan intelektual saja, tetapi juga harus memperhatikan perkembangan seluruh pribadi siswa, baik jasmani, rohani, sosial, maupun yang lainnya sesuai dengan hakikat pendidikan. Hal ini dimaksudkan agar siswa pada akhirnya dapat menjadi manusia yang mampu menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupannya sebagai insan yang dewasa (Soejipto dan Kasasi dalam D. Deni Koswara 2008: 6). Ilmu psikologi meyakini bahwa anak didik bukanlah gelas kosong yang harus diisi, tetapi api yang harus dinyalakan. Teori tersebut semakin memperkokoh keyakinan bahwa pendidikan juga merupakan proses untuk menghidupkan api cinta dan semangat dalam diri anak untuk terus mencari ilmu tanpa henti (D. Deni Koswara dan Halimah, 2008:12).

Atas asumsi di atas, proses pendidikan semestinya diarahkan pada pembangkitan daya kreativitas siswa dalam mengeksplorasi sekaligus mengolah informasi yang didapat sembari memelihara daya kritis anak demi menjaga validitas informasi yang diperolehnya. Sementara itu, kreativitas akan tumbuh ketika terdapat ruang dan peluang yang cukup luas untuk berekspresi ”sesuka hati”. Komunikasi timbal balik yang seimbang antara anak didik dengan pendidik, harus mampu menyediakan ruang yang dibutuhkan itu. Dalam praktiknya di dalam kelas, guru seolah-olah berada dalam status quo yang tak dapat diganggu gugat dan tidak ada orang yang tahu bagaimana ia melakukan tugasnya. Pada tataran ini, guru memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk memengaruhi atau bahkan mengarahkan sistem menuju pencapaian tujuan pendidikan.

Mencermati kondisi pendidikan dan pembelajaran saat ini, guru-guru umumnya terbelenggu oleh ketentuan administratif yang harus dipatuhi seperti target pencapaian kurikulum, ketuntasan belajar, silabus, RPP, penilaian dan perangkat lainnya yang senantiasa berubah. Karakteristik seperti ini yang disorot banyak kalangan sebagai guru kurikulum. Sehingga dalam kegiatannya di kelas sangat jarang guru dalam interaksi dengan siswa-siswanya mampu mengembangkan dan memaksimalkan potensi kreativitas yang dimiliki oleh mereka. Cc

DUKUNGAN KEPALA SEKOLAH KEPADA PANITIA SPMB DI UPT SPF SD INPRES MACCINI

 Dukungan kepala sekolah terhadap panitia penerimaan siswa baru sangat penting untuk kelancaran dan keberhasilan proses tersebut. Dukungan i...